adult,  fiksi,  Indonesia,  Review Buku,  Roman

Pahitnya Cinta Sesama Jenis di Novel “Before Us” by Robin Wijaya

Penulis : Robin Wijaya
Editor : Della
Desainer Sampul : Jeffri Fernando
Proofreader : Resita Wahyu Febiratri & Christian Simamora
Penata Letak : Wahyu Suwarni
ISBN : 978-979-780-540-1
Format : Paperback, 298 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2012 oleh Gagas Media
Finished (cetakan ke-2) 12 April 2015
Genre : Roman, Drama
Age Range : Dewasa
Keywords : pernikahan, hubungan sesama jenis, komitmen
Plot/Moral Cerita : (4/5)
Alur/Editing : (5/5)
Karakter : (4/5)
Diksi/Bahasa : (4/5)
Riset/Pendalaman : (3/5)

Sinopsis

Agil dihadapkan pada pilihan sulit. Di satu sisi, perannya sebagai kepala keluarga bagi istri dan anaknya menjanjikan kehidupan normal yang tenang. Di sisi lain, sahabatnya dari masa lalu datang dan mengobrak-abrik kedamaian itu.
Sahabatnya, Radith, yang entah sejak kapan diam-diam menjelma lebih dari seorang teman bermain playstation dan bertukar DVD. Sahabatnya, Radith, yang telah membuat jantungnya berdebar, membuatnya kebingungan setengah mati.
Sahabatnya, Radith, yang jelas bukan hanya seorang sahabat, tapi seseorang yang dia cintai sebagai laki-laki. Yang datang dan pergi, dan selalu dia rindukan dalam hati.
Salah satu harus dikorbankan, tapi bisakah Agil membuat keputusan? Keluarganya atau Radith?

Review

Premisnya menarik, gaya penulisan Robin Wijaya seperti biasanya rapih dan halus.
Diceritakan hubungan Agil dan Radith itu tarik ulur karena mereka berdua sebenarnya sama-sama kurang sreg dengan apa yang mereka jalani, tapi di sisi lain kangen kebangetan. Tapi tarik ulurnya mayan sih, sempet jeda bertahun2 sebelum ketemu lagi terus pisah lagi, terus jeda bertahun2 lagi buat ketemu lagi. Pokoknya, kalau Robin Wijaya ingin menggambarkan keraguan Agil untuk membuat keputusan tentang hidupnya, ya memang berhasil (pembaca yang ikut gregetan gara2 Agil). 
Tapi saya merasa untuk novel dewasa, apalagi mengambil tema gay, ceritanya kurang berani. Tidak harus sampai tahap membuat risi, tapi saya rasa perlu tambahan aktifitas fisik lebih jauh di dalamnya, sekedar menggambarkan mereka tidur bersama secara implisit misalnya?
Lalu, entah kenapa alur dan konfliknya kurang klimaks. Terasa mengalir begitu saja, terasa mellow dan abu2. Kurang element of suprise. 😀

Kutipan Favorit

“Sifat posesif dan ketergantungan tersebut masih berlanjut hingga kami lulus SMA, ketika akhirnya kami berbeda kampus. Dan waktu kebersamaan yang semakin menipis oleh kesibukan kami masing-masing. Kami hanya bertemu satu atau dua minggu sekali,  itu pun dipotong waktu kencan dengan pacar masing-masing. Minimnya waktu bertemu membuat kami memendam rindu lebih besar dari biasanya. Pertemuan berubah menjadi kualitas, bukan kuantitas. Aku mulai merasakan detak jantung yang meningkat setiap kali akan bertemu Radith. Radith mungkin tak pernah cerita apa yang dia rasakan, tapi mata dan raut wajah gembira cukup menjelaskan kalau tak ada yang lebih bernilai selain pertemuan. Aku mulai bertanya, kenapa semuanya jadi begini?” (“Before Us” halaman 85)

Selamat Membaca!


Putri Review.

168 total views, 3 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

2 Comments

  • Putri Review

    Kalau aku, tergantung sejauh mana penulisnya menggambarkan sih, kalau novel Before Us ini kebetulan soft banget, jauh dari kata vulgar :P. Tapi masalahnya muter2 di tempat yg sama jadi rada bosen. Novel2 bertema LGBT lain banyak yang lebih parah :))

    btw salam kenal, makasih udah kasih komentar pertama blog ini *tebar konfetti*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *