adult,  fiksi,  Indonesia,  marriage,  Review Buku,  Roman

Pernikahan Simbiosis Mutualisme dalam Novel “Marriage of Convenience” by Shanti

-Krishna- 
Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha keras memahami isinya. Oh bukan, aku paham betul apa isinya. Lebih tepatnya sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Krishna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang ayah. 

-Dita- 

Aku menatap rintik hujan yang semakin menderas. Tidak berniat sedikit pun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak 3 jam yang lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. Di sini, di dadaku. Dan di sini. Aku meraba perutku perlahan. Yah, Nak. Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindita Sahaja, akan menjadi single mother.

 

Review

Marriage of Convenience itu artinya pernikahan yang dilakukan bukan karena cinta atau tujuan berkeluarga yang dimiliki calon pasangan pada umumnya. Bisa juga disebut pernikahan politik.
Begitu pula yang dilakukan oleh dua pemeran utama dalam novel ini, Khrisna dan Dita. Dua teman SMA ini bertemu kembali di umur mereka yang sudah matang. Dita dengan masalahnya sendiri, Khrisna pun ternyata dirundung kesulitan yang tak kalah pelik. Keduanya menemukan fakta bahwa mereka bisa menjadi solusi bagi masalah satu dan lainnya, yasudahlah, akhirnya mereka sepakat untuk menikah.

Yang Dita tidak tahu adalah, Khrisna tidak sepenuhnya menganggap pernikahan mereka sebagai politik semata. Khrisna mencintai Dita dengan tulus sejak lama.

Yang Khrisna tidak tahu adalah, meskipun tidak sebesar yang dirasakan Khrisna pada awalnya, Dita juga menyimpan ketertarikan pada Khrisna. Niat Dita yang awalnya hanya untuk membantu Khrisna (dan membantu dirinya sendiri) lama-lama bertransformasi menjadi rasa bersalah karena Dita tak lagi tega memanfaatkan Khrisna demi kepentingan dirinya sendiri lagi.
Terus terang, yang membuat saya tertarik baca pada awalnya adalah cover (bravo Affan Hakim) baru setelah itu sinopsisnya. Catchy banget, bikin penasaran.
Menarik kok, serius deh. Tapi, sayang banget nih… kekurangannya lumayan ada di sana-sini. 
Yang pertama bahasa, sebenernya narasi, deskripsi dan dialognya udah bagus, tapi banyak pengulangan informasi dan bagian2 yang gak signifikan (dibuang juga gak ngaruh ke cerita).
Yang kedua konflik, sebenarnya konflik utama yang ditawarkan di awal cerita dan sinopsis itu sangat menarik, tapi makin ke belakang, konfliknya tidak terasa terlalu serius lagi karena dibawakan dengan eksekusi yang terkesan main2. Kalau mau disisipi komedi pun tidak apa2, tapi ada saat2 yang menurut saya seharusnya dibawakan serius tapi malah sempat2nya dibuat bercanda, dan itu -untuk saya- mengurangi kenikmatan dalam membaca, apalagi dengan tingkat konflik Dita yang cukup serius. (contoh momen ngeselin : pas Dita mau lahiran).
Yang ketiga, karakterisasi, untuk novel age range dewasa dengan karakter2 orang dewasa, cara pikir dan bertindaknya masih terkesan terlalu childish (bahkan childishnya orang dewasa itu ada bedanya dengan anak remaja kan?), karakter2 prianya juga kadang berbicara terlalu manja/girlish. Contoh paling utama itu Khrisna. Di novel ini  Khrisna digambarkan terlalu labil, yaitu bisa dengan mudahnya pindah ke indonesia karena Dita padahal sebelumnya betul2 ogah balik bahkan saat keluarganya memintanya. Terus bisa dengan cepetnya mau nikahin Dita karena alasan dia gak bisa punya anak (infonya terlalu mendadak). Terus setelah dicerai bisa dengan mudahnya mau pergi ke London lagi tanpa memedulikan perusahaan ayahnya.

Memang sih bisa aja ada karakter dewasa yang emang childishnya kelewatan, tapi menilik dari pengenalan di awal novel, saya rasa cerita memang tidak dimaksudkan untuk ke arah sana. 😀

Last but not least, kalau kalian penggemar novel roman yang ringan dan lucu2an gitu ya kayaknya gak ada masalah sih. Apalagi kalau suka novel2 yang membahas keluarga besar macam keluarga Hanafiah-nya Sitta Karina atau novel2 ala Nina Ardianti 😉

Kutipan Favorit :

Aku menatap Khrisna lagi, yang masih saja tertidur dengan pulasnya. Sementara aku sudah tidak merasa nyaman di sofa. Yup, semalam setelah kami bicara, kami tidur bersama. Aku di sofa, dia di karpet, beralaskan beberapa lapis bedcover agar lebih empuk. Aku menjelaskan padanya kenapa aku tidak mau tidur di kamarku. Khrisna mengangguk paham. Sungguh, tak ada rasa tak nyaman. Aku justru merasa… aman. Terlindungi. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku rasakan. Aura Khrisna yang tenang, membuatku juga merasa tenang hanya dengan berada di dekatnya. Aku yakin dia nggak akan berbuat macam-macam. (-Dita, Marriage of Convenience by Shanti, halaman 76)

Sedikit Tentang Penulis

Awal karir menulis Shanti diawali lewat Wattpad dengan akun momomalili. Shanti juga bisa ditemui di akun twitter @fiksipop.
Selamat Membaca!
 
Putri Review.

 

Judul : “Marriage of Convenience” (Seri Le Mariage Elex)

Penulis : Shanti

Editor : Afrianty P. Pardede
Illustrasi Cover : Affan Hakim
ISBN : 978-602-02-6909-2
Format : Paperback, 306 halaman
Diterbitkan pertamakali pada tahun 2015 oleh Elex Media Komputindo
Finished buku cetakan ke-I pada 25 Agustus 2015
Genre : Roman, Drama, Komedi

Age Range : Dewasa
Keywords : Pernikahan, Hamil, Kesuburan, Pemerkosaan, CLBK, Azoospermia

Plot/Moral Cerita : (3/5)
Alur/Konflik : (3/5)
Karakter : (2/5)
Diksi/Bahasa : (2/5)
Riset/Pendalaman : (4/5)

172 total views, 2 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *