nonfiksi,  Review Buku

Review Buku Non-Fiksi : “Kode Untuk Republik” by Pratama D. Persadha

Penyunting & Layout : Rieko Kristian
Sampul : Adin Hadiwijojo
Diterbitkan pertama kali pada tahun 2015 oleh PT Marawa Tiga Warna
Cetakan : Pertama, Juli 2015
ISBN : 978-602-72773-0-4
Format : Paperback, 237 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2015 oleh PT Marawa Tiga Warna
Cetakan : ke-1 Juli 2015
Genre : Non-fiksi, sejarah
Keywords : Kriptografi, Spionase, Sandi, Kemerdekaan

Review :

Dengan niat mencari inspirasi, saya menerima tawaran untuk mereview buku non-fiksi “Kode Untuk Republik” karya Pratama D Persadha. Setelah menonton film “The Imitation Game” yang membahas peran Alan Turing sebagai ahli kriptografi pada perang dunia II, saya jadi sedikit penasaran dengan apapun yang berhubungan dengan spionase, terutama kriptografi. Saya ingin tahu, bagaimana para pendahulu kita bangsa Indonesia memutar otak pada masa-masa perebutan kekuasaan kala itu.
Dalam buku “Kode Untuk Republik” ini, penulisnya mengulas potongan-potongan sejarah dari berbagai sumber–baik yang sudah kita ketahui dari pendidikan formal maupun info menarik/penting yang terlewatkan. Pada bab-bab awal, penulis membahas tentang sejarah kriptografi, kemudian mengingatkan lagi akan kronologi penjajahan yang dialami bangsa Indonesia : mulai dari Belanda, kemudian Jepang. Lalu perang dunia ke-II berakhir dan Jepang terpukul mundur di kancah internasional. Momen kemunduran Jepang itu segera dimanfaatkan oleh dua proklamator kita (serta para pejuang yang turut berperan dan membantu) Soekarno dan Moh. Hatta untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Banyak orang berpikir merdeka berarti menang, beranggapan bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari dimana Indonesia lepas dari bayang2 negara lain setelah berpuluh2 tahun lamanya. Tapi untuk Indonesia, proklamasi kemerdekaan membuka jalan untuk perjuangan berikutnya. Kala itu, keringat dan darah tak berhenti di tahun 1945–para pahlawan dan pelajar masih harus bekerjasama membangun negara. Tenaga mereka masih dibutuhkan bukan hanya untuk menguatkan sektor dalam, tapi (lagi-lagi) untuk mempertahankan diri dari serangan luar.

Ya, serangan luar. Setelah proklamasi, perang yang terjadi bukan hanya fisik saja, tapi juga perang informasi. Lewat radio, berita kemerdekaan disebarkan ke luar Jakarta, dari pulau ke pulau, kota ke kota, tapi karena alasan teknologi yang kurang memadai, masih ada daerah2 nusantara yang telat tahu bahwa negaranya sudah menyatakan diri bebas penjajah. Di negeri sendiri saja beritanya masih lamban terdengar, apalagi di luar negeri. Pada waktu itu PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang bertujuan memastikan perdamaian dunia memang tengah menjadi penengah untuk negara2 yang sedang dalam konflik/berkembang. Dalam hal ini Belanda dengan kemajuan hubungan antar negara dan sistem politiknya memiliki keuntungan. Setelah kemunduran Jepang dan proklamasi kemerdekaan, Belanda memiliki akses yang lebih besar untuk membentuk opini internasional mengenai Indonesia.
Belanda ingin mendapatkan kembali wilayah Indonesia beserta hasil bumi yang berada di bawah kekuasaannya. Itulah sebabnya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda segera menjalankan serangan-serangan (termasuk Agresi Militer Belanda I dan II) untuk memporak-porandakan pemuda-pemudi bangsa yang sedang giat-giatnya memperkuat fondasi negara. Perjanjian-perjanjian dibuat namun Belanda berkali-kali melanggarnya. Bahkan, setelah PBB campur tangan, Belanda masih menyerang.
Para pejuang kita sadar bahwa pada perang kali ini, Indonesia harus dapat mengimbangi kecepatan dan keamanan pertukaran informasi baik untuk komunikasi antar pejuang dan hubungan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri. Belajar dari pengalaman beberapa negara dalam Perang Dunia II beberapa waktu sebelumnya, kebutuhan akan metode kerahasiaan informasi tersebut mencetuskan lahirnya Dinas Kode, yang merupakan cikal bakal dari berdirinya Lembaga Sandi Negara.
Selanjutnya, buku ini membahas perkembangan Dinas Kode, mulai dari metode yang digunakan, suka dan duka para CDO (Code Officer, disebut juga Sandiman), peran serta rakyat sipil sebagai mata-mata dan kurir, serta tokoh2 dan tanggal penting dalam sejarah kriptografi Indonesia.
Yang saya suka dari buku ini, penulis juga mencantumkan beberapa info mendetail seperti Stasiun Radio Playen PC-2 Playen (stasiun rahasia yang kala itu ada di Dusun Banaran, kecamatan Playen) yang ditempatkan diam2 di rumah rakyat sipil yang turut membantu–konon pembangkit listriknya disembunyikan di sebuah tungku tanah dan ditutupi kayu bakar, sedangkan antenanya hanya dibentangkan di malam hari. Atau kisah tentang “Tentara Semut” di Sumatera Barat, yaitu unit gerilyawan cilik yang turut membantu perjuangan Indonesia.
Membaca buku ini terasa seperti sedang mendengar kisah dari sesepuh yang menjadi saksi dari perjuangan kala itu–dari seseorang yang keringat, airmata, bahkan darahnya, sedikit banyak pernah tumpah untuk nasib Indonesia.
Adapun kekurangan dari buku ini, jujur, saya sedikit sulit dalam membaca setengah dari keseluruhan buku (itulah mengapa butuh waktu lama bagi saya untuk mereview). Hal ini mungkin dikarenakan saya sudah menunggu2 pembahasan mengenai spionase Indonesia sejak awal, namun cerita tentang itu baru diulas pada setengah sisanya, jadi saya menjadi sedikit bosan di separuh awal. Itupun menurut saya kurang memuaskan, karena jujur, saya berharap paling tidak ada contoh pesan dan cara mengenkripsi dan dekripsi-nya tapi tidak ada. Saya menunggu cara pakai dari pembatas buku berbentuk alat kriptografi sederhana yang menyertai buku ini, tapi sampai akhir saya tidak menemukannya.
Buku ini menarik, tapi metode penjabarannya sedikit menyulitkan. Informasi2 detail menjadi terlupakan, kronologis pun beberapa kali sempat tertukar di benak saya. Saya rasa, buku ini akan menjadi sempurna dengan format layout dan penyampaian informasi yang lebih menarik, mungkin salah satunya dengan tambahan interpretasi informasi sejarah secara visual (di dalam buku).
Buku “Kode Untuk Republik” ini disertai oleh DVD dan pembatas buku unik πŸ™‚
Oh, nilai plus untuk DVD berisi cuplikan film2 yang memberikan garis besar perjuangan Dinas Kode Indonesia. Semoga buku “Kode Untuk Republik : Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan” ini menjadi inspirasi untuk banyak pembacanya, syukur2 untuk penulis/sineas yang sedang berminat mengembangkan plot bertema perang kemerdekaan, baik itu bergenre action, drama historis, atau romance kontemporer (yang terakhir dong!). Sepertinya kisah cinta di tahun 1940-an antara perempuan sipil dengan sandiman akan sangat menarik untuk dinikmati πŸ˜‰ 
Score dari saya : 4 dari 5 bintang πŸ˜€
Selamat Membaca!

Putri Review.

165 total views, 3 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *