fiksi,  Indonesia,  komedi,  New Adult,  psikologi,  Review Buku,  Roman,  romcom

Babi, Stalker, dan Upacara Minum Teh dalam novel “Jakarta Sebelum Pagi” by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Emina tidak tahu mana yang lebih mengerikan, fakta bahwa seseorang tengah menguntitnya, atau kenyataan bahwa dirinya begitu penasaran akan hal itu–membuatnya persis seperti tokoh film thriller suspense picisan yang terlihat takut namun terus-menerus menempatkan diri pada tempat dan waktu yang salah.

Mungkin seperti kata Nissa koleganya, si babi yan-pi berjilbab satu itu, Emina memang tak akan bisa hidup tanpa Nissa sang voice of reason-nya. Lepas pengawasan Nissa sedikit saja dan Emina si babi asap mungkin akan menjadi berita utama koran esok pagi : Babi Asap Ditemukan Mati Gepeng dalam Kondisi Mengenaskan di Dalam Kamar Apartemennya, Tapi Bukankah Sejatinya Babi Asap Memang Begitu? Jadi Sebenarnya Tujuan Berita Ini Apa?

Ngomong-ngomong soal babi, Emina memang punya obsesi tersendiri tentang itu. Sejak membaca Animal Farm karya George Orwell, Emina mulai mengumpamakan lingkungan dan orang-orang sekitarnya dengan sistem hierarki babi karangannya. Ada babi asap (dirinya yang terlalu sering kena polusi karena naik motor setiap harinya), ada babi yan-pi (Nissa yang tipis dan asin karena terus terjepit orang2 di kereta) dan ada juga babi steril (berdasar komik Yakitatte Japan karya Hashiguchi Takashi, babi steril adalah babi yang memang khusus dikembangbiakkan dalam lingkungan steril agar bisa dimakan mentah).

Buku Animal Farm sendiri Emina baca atas referensi Pak Meneer, pria lanjut usia yang tinggal di sebelah Rumah Para Jompo–rumah kakek dan nenek Emina, juga adik perempuan kakeknya yang biasa dipanggilnya Nini (karena semua yang tinggal di situ jompo, maka jadilah rumah itu Rumah Para Jompo). Soal Pak Meneer, Emina tidak tahu nama aslinya, tapi karena dia tinggi dan terlihat jelas bukan merupakan pribumi, maka begitulah Emina menjulukinya.

Untuk Emina, bisingnya Jakarta tak akan bisa mengalahkan kebisingan pikirannya. Sedari kecil otaknya memang seakan tak pernah berhenti menganalisa segala hal yang seringkali dianggap aneh dan tak penting. Seperti benaknya yang terus menampilkan hal-hal random, nasib pun mempertemukannya dengan keanehan-keanehan random. Contohnya menemukan stalker yang mengiriminya bunga hyacinth, seorang anak SD penyuka upacara minum teh, surat-surat cinta yang mengiris hati, dan perjalanan dini hari menyusuri situs-situs bersejarah di Jakarta.

Review :

Dari semua novel lokal yang pernah saya baca, buku Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (namanya beneran begitu katanya) mungkin adalah yang paling bikin saya garuk2 karena isinya yang absurd tapi bikin ketagihan. Serius deh, berapa banyak pun saya membatin bahwa novel ini terlalu random (dan seringkali gak nyambung), saya tetap membaca semuanya secara seksama, lembar demi lembar, sampai akhir.

Emina, tokoh utamanya, digambarkan sebagai gadis ceria, easy-going, yang tak bisa menahan diri untuk berkomentar tentang banyak hal. Apapun yang dia pikirkan diungkapnya dengan gamblang, dan menurut saya, kepribadian Emina itulah yang mewakili novel Jakarta Sebelum Pagi secara keseluruhan : gamblang, lantang, berani, aneh, namun merangsek masuk ke dalam hati dan menempatkan diri di sana sesukanya.

Bukan hanya Emina, tokoh-tokoh pendukung lainnya pun tidak kalah nyentrik. Ada Suki, si anak SD keturunan Arab-Jepang yang tergila-gila dengan upacara minum teh. Abel si korban perang saudara Aljazair yang menderita phobia suara dan sentuhan. Tiga jompo yang mendiami Rumah Para Jompo (kakek dan nenek Emina, juga adik perempuan kakek Emina yang biasa dipanggil Nini). Pak Meneer yang gemar membaca dan konon menghabiskan hari tuanya untuk mengurus sahabatnya yang sakit–namun tak ada yang pernah melihat sahabatnya tersebut, bahkan Abel yang merupakan cucu angkatnya pun tidak pernah.

Karakter novel Jakarta Sebelum Pagi ini mengingatkan saya bahwa tak ada manusia yang sempurna. Semua memiliki ceruk dan celahnya masing-masing, tapi dari sanalah cahaya dan air bisa masuk dan berdiam, dan bukankah begitu cara hidup bermula?

Hal pertama yang membuat saya terpukau dengan novel ini adalah alur dan twistnya yang membuat penasaran. Ziggy begitu pandai meredam dan ‘meledakkan’ fakta–membuat hal-hal kecil menjadi begitu istimewa, namun bisa dengan mudah menyembunyikan hal besar untuk nantinya diungkap dan membuat semuanya menjadi nyaris sempurna.

Yang kedua adalah kisah roman Abel dan Emina yang begitu awkward, namun manis luar biasa. Saya benar-benar belum bisa move on dari kebersamaan Abel dan Emina di tangga darurat apartemen mereka. Dengan dua mug cokelat hangat, selimut, serta headphone peredam suara yang melindungi mereka dari kengerian petir dan hujan yang menyerang Jakarta.

Perjalanan-perjalanan malam menyusuri Jakarta yang dilakukan Emina juga somehow membuat saya iri. Kebetulan saya memang suka sekali dengan suasana lengang jalan bebas hambatan di waktu malam, mungkin kalau situasinya mendukung, saya akan benar-benar mencoba.

Secara keseluruhan saya puas dengan novel ini. Kalaupun ada yang mengganjal, mungkin dari segi bahasa dan diksinya yang betapapun dibuat untuk mendukung gaya bercerita dan tema novel Ziggy, saya merasa seringkali terlalu slang dan asik sendiri. Saya juga merasa, beberapa elemen yang dimunculkan dalam novel semakin lama entah mengapa semakin terasa jauh dari tema Jakarta. Untuk hierarki babi somehow saya masih mengerti, mungkin masih bisa dihubungkan dengan serakahnya Jakarta dan apapun itu. Saya juga suka dengan pertengkaran antara Datuk (kakek Emina) dan Nini (adik kakek Emina) yang seringkali tanpa sensor dan kocak luar biasa, masih terasa mewakili budaya Jakarta yang keras apa adanya. Tapi untuk bagian upacara minum teh di tengah padatnya kompleks apartemen, anak SD keturunan Arab-Jepang, lalu survivor Aljazair yang phobia suara dan sentuhan, saya masih kurang mengerti korelasinya, kecuali untuk menggambarkan bisingnya Jakarta, mungkin masih bisa.

Yeah well, seperti yang saya bilang, tidak semuanya dalam novel ini make sense (dan memang tidak harus), tapi saya memang gemar meneliti hal-hal semacam ini.

Last but not least, novel ini cocok untuk kalian yang merasa bahwa tidak semua hal harus masuk akal. Untuk kalian yang menghargai proses. Untuk kalian yang menyukai hal-hal awkward dan aneh yang diam-diam mungkin menggambarkan sebagian dari diri kalian juga di dalamnya (sadar maupun tidak sadar). Novel Jakarta Sebelum Pagi memang aneh, namun memorable dan menginspirasi. Persis seperti lego yang bisa dibongkar pasang menjadi objek baru setiap harinya, Jakarta Sebelum Pagi adalah tipe cerita yang bisa kalian baca lagi bertahun-tahun kemudian, dan kalian akan menemukan hal baru yang belum pernah kalian temukan sebelumnya.

Penasaran mau baca novel Ziggy yang lainnya!

Selamat Membaca,
 
Putri Review.
 

 

Editor : Septi Ws
Desainer Kover : Teguh
Illustrasi Isi : Cynthia
Penata Isi : Tim Desain Broccoli
ISBN : 9786023754847
Format : Paperback, 280 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2016 oleh Grasindo
Finished Cetakan Ke-1 5 Agustus 2016
Genre : Drama, Slice of Life, Roman
Age Range : Dewasa, New Adult
Keywords : Jakarta, Persahabatan
Plot/Moral Cerita :    (4/5)
Alur/Editing : (4/5)
Karakter : (5/5)
Diksi/Bahasa : (3/5)
Riset/Pendalaman : (4/5)

Sinopsis

66 total views, 2 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *