adult,  fiksi,  Historical Fiction,  Indonesia,  Review Buku,  Roman

Cinta di Tengah Ancaman Anarki dalam Novel “Putri Melayu” by Amiruddin Noor

Kemerdekaan negara yang sedianya membawa kebahagian, nyatanya turut serta menimbulkan benih-benih anarki yang tak diduga-duga. Demi kepentingan sepihak, oknum-oknum golongan kiri mengobarkan kebencian pada kaum bangsawan Melayu Deli di Tanjung Pura.

Semua bagai hanya tinggal menunggu waktu. Awalnya hanya berupa desas-desus yang beredar dari bisik-bisik anak dara dan para ibu–bapak si fulan tewas dipenggal, hartanya dirampas, istri dan anak perempuannya diperkosa–namun lama-kelamaan semua tahu bahwa bahaya telah menghadang. Tanjung Pura semakin mencekam.

Tengku Farida yang merupakan putri satu-satunya dari Pangeran Setiakala juga tak luput dari libasan ombak sejarah. Hanya dalam satu malam, hidup Farida bagai pundi tanah liat yang dibanting ke tanah. Anak dara yang semula lelap dalam lindungan kelambu sekarang terpaksa tidur berpindah-pindah dari satu penampungan ke penampungan lainnya. Putri ningrat yang semula berpakaian sutra halus membalut kulit, sekarang memakai baju kusam yang sama tiga hari lamanya.

Hilang harta Farida bisa terima. Hilang nama sungguh tak apa. Hilang nyawa pun kiranya Farida rela. Tapi sungguh anak dara itu tak bisa tenang memikirkan nasib orangtua dan kerabatnya yang terpisah, pun tentang kehormatannya yang terancam setiap waktu, dan kabar seseorang yang telah lama dia damba : Farid.

Kapankah Farid akan datang dan menepati janjinya untuk menyelamatkan Farida?

 

Review

Semua tahu bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dicapai dalam satu malam. Proklamasi memang menandai akhir dari suatu masa, namun juga merupakan awal perputaran roda sejarah lainnya.
Salah satu kisah pasca kemerdekaan yang menarik untuk disimak adalah situasi anarki yang sempat timbul di Tanjung Pura–tepatnya di daerah Langkat, Sumatera Utara. Seperti yang sudah sering kita baca di buku sejarah, bahkan setahun setelah proklamasi dibacakan, penjajah masih mencari cara untuk menguasai Indonesia. Berbagai cara dilakukan, mulai dari teror mental lewat konferensi-konferensi internasional, sampai serangan fisik baik nyata maupun terselubung. Sedikit dari sekian banyak trik yang dilancarkan adalah infilrasi paham golongan kiri yang perlahan namun pasti mulai menancapkan kuku-kukunya, terutama di daerah-daerah luar pulau Jawa.
Misi golongan kiri di masa itu adalah mengumpulkan sumber daya sebanyak-banyaknya untuk mengambil alih tampuk pemerintahan. Agenda mereka tersebut menjadi benih dari revolusi sosial di Tanjung Pura. Rakyat miskin yang mudah dihasut pun perlahan terbakar amarahnya, sehingga akhirnya tindakan semena-mena tak lagi dapat dihindari. Para bangsawan dan pejabat yang hidup berkecukupan dianggap kaki-tangan musuh–hidup nyaman karena menjilat penjajah–oleh karena itu mereka dianggap layak untuk dibantai, boleh dijarah harta dan kehormatannya.
Di tengah latar sejarah inilah, Amiruddin Noor menyelipkan kisah fiksi mengenai seorang putri bangsawan bernama Tengku Farida. Lewat uraian nasib Farida dan orang-orang yang terkait dengannya, penulis menggambarkan pedih dan sulitnya perang mempertahankan kemerdekaan di masa itu.
Hal pertama yang saya suka dari novel ini adalah deskripsi latar belakang waktu dan tempat yang begitu kental terasa. Berbeda dengan penulis yang lahir di tahun 1935 (dari catatan profil di belakang buku) saya lahir di tahun 90-an, sehingga jelas ada kesenjangan masa yang cukup jauh. Namun penulis berhasil membuai saya–si pembaca yang lahir berpuluh-puluh tahun dari titik sejarah di dalam novel Putri Melayu–untuk membayangkan situasi dan kondisi di masa itu. Saya seakan bisa dengan jelas melihat jalan-jalan Tanjung Pura pada tahun 1940an yang hanya disinari lampu minyak dan sinar bulan. Utusan yang berpindah dengan sado. Perjalanan kapal laut berbulan-bulan lamanya. Pertemuan rahasia para bangsawan di surau luar kota. Penampungan sandera jauh di pedalaman hutan.
Saya juga seakan bisa melihat gentingnya situasi bangsawan2 Melayu yang begitu ingin melindungi diri diam-diam. Sebisa mungkin menahan diri agar tidak memberi alasan bagi kaum anarki dan rakyat untuk curiga dan marah, namun dalam hati tahu bahwa pembantaian tersebut hanya tinggal menunggu waktu saja.
 
Hal kedua yang saya suka adalah moral cerita dari fiksi yang terinspirasi sejarah riil yang melibatkan tokoh-tokoh nyata dalam sejarah. Tentang perjalanan menuju demokrasi Pancasila yang tidak mudah. Tentang pahlawan-pahlawan tak dikenal yang gugur dalam usahanya menjaga keluarga, negara.
Dan juga tentang cinta di masa itu yang tak luput dari prahara. Bahwa di masa itu, cinta bukan hanya diuji oleh ego semata, namun juga ancaman kehilangan nyawa dan identitas. Janji bukan lagi sesuatu yang menunggu untuk ditepati, bukan juga sumpah yang harus ditagih, karena pada akhirnya keselamatan adalah yang utama.
Saya sangat menikmati kisah Putri Melayu gubahan Amiruddin Noor ini. Ceritanya memang sedikit berlarut-larut di beberapa bagian, membuat saya beberapa kali merasa tak sabar (namun tetap saya paksakan untuk membaca semuanya). Endingnya pun seperti kurang bumbu, ada yang kurang mengena di hati, padahal saya sudah sangat siap menerima puncak dari pesan-pesan moral yang sudah begitu kental. Di luar itu, Putri Melayu merupakan kisah yang menginspirasi, membuat saya penasaran tentang sejarah pasca kemerdekaan di wilayah-wilayah lainnya.
Selamat Membaca,

 

 
Putri Review.

 

 

Judul : Putri Melayu

Penulis : Amiruddin Noor

Penyunting : Gunawan B.S.
Perancang Sampul : Iksaka Banu
Pemeriksa Aksara : Kus W., Joko G.S.
Penata Aksara : Beni D.P.

ISBN : 978-979-1227-48-3
Format : Paperback, 428 halaman
Diterbitkan pertamakali 2009 oleh Penerbit Bentang
Finished (cetakan ke-1) 23 Mei 2016
Genre : Roman, Sejarah, Melodrama
Age Range : Dewasa
Keywords : Agresi Militer Belanda, Revolusi Sosial, Perang Pasca Kemerdekaan, Melayu
Plot/Moral Cerita :    (4/5)
Alur/Editing : (2/5)
Karakter : (4/5)
Diksi/Bahasa : (5/5)
Riset/Pendalaman : (5/5)

19 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *