fiksi,  Indonesia,  komedi,  Review Buku,  Roman,  Young Adult

Romansa ala Drama Korea dalam Novel “Strawberry Cheesecake” karya Ayuwidya

Alana tak pernah menyangka bahwa perasaannya pada Aidan akan melibatkannya dalam sebuah reality show kompetisi membuat cake di televisi. Sejujurnya, Alana kurang terampil mengolah tepung dan telur menjadi santapan yang lezat, namun sebagai artis, Alana punya popularitas yang harus dijaga, pun tak bisa mengabaikan fakta bahwa Aidan telanjur menganggapnya sebagai perempuan yang jago memanggang kue.

Berbekal tekad untuk merebut hati Aidan seutuhnya, Alana pun memberanikan diri untuk menjawab tantangan-tantangan yang diberikan padanya. Pie, bolu kukus, chiffon cake dan cheese cake, apa susahnya? Alana yakin dia akan baik-baik saja hanya dengan berbekal resep dan video tutorial di internet. Alana positif bahwa kue buatannya akan membuat juri terpukau, semua akan memuji kehebatannya dalam menyajikan rasa yang luar biasa.

Harapan Alana jelas luluh lantak sia-sia, kuenya tak kunjung sempurna meski dia sudah berusaha. Alana pun sadar bahwa orang-orang mulai meragukan kemampuannya, kata-katanya mulai terdengar seperti bualan belaka. Di saat itulah, seorang pria misterius bernama Regan hadir dan menunjukkan pada Alana bahwa baking bukan sekadar mengaduk dengan mikser dan menempatkan loyang berisi adonan pada oven–dibutuhkan latihan, kesabaran, kedisiplinan, dan cinta untuk mengikat semuanya.

 

Review

Saya tak bisa tak tersenyum saat membaca novel Strawberry Cheesecake. Ini adalah novel Ayuwidya pertama yang saya baca, dan saya cukup terhibur dengan gayanya bercerita yang seringkali disisipi humor yang tidak disangka-sangka. Betul-betul deh, selera humor seorang Ayuwidya tak bisa diremehkan. Terasa sangat segar bagi saya karena ini sesuatu yang belum pernah saya temukan pada penulis lainnya.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah cara Ayuwidya melibatkan tema baking di dalam ceritanya. Saya pernah membaca kisah cinta bertema masak-memasak (dan baking) yang terasa memaksa. Kegiatan meramu hidangannya masih terasa seperti textbook, kurang terintegrasi dengan cerita. Namun Strawberry Cheesecake berhasil melibatkan elemen baking tersebut dengan indahnya, membuatnya kental terasa, namun tetap mengusung romantic comedy yang menjadi tema utamanya. Saya juga cukup suka dengan keputusan memajang resep kue2 yang dibuat Alana setelah epilog.

Karakterisasi pada novel ini pun menurut saya cukup lumayan. Terutama tokoh Alana yang memang digambarkan sangat santai, simpel, dan kurang pertimbangan matang. Ayuwidya bahkan memperlihatkan dengan jelas apa jadinya seorang cewek seperti Alana jika terpaksa masuk dapur dan membuat kue untuk pertama kalinya. Saya suka bagaimana Ayuwidya memperlihatkan Alana yang sengaja membesarkan suhu/bara api untuk mempercepat proses pembuatan kue, hanya karena dia tak sabar menunggu. Sayang, saya merasa karakter2 lainnya masih kurang terasa, terutama Regan yang sedianya penting untuk cerita, namun entah mengapa saya merasa karakternya masih kurang mengena di hati.

Adapun hal2 yang terasa sedikit mengganjal adalah alur cerita dan plot yang kadang kurang konsisten/logis. Ada beberapa momen dalam proses membaca dimana saya harus mengulang adegan dua-tiga kali karena saya merasa ada yang tidak nyambung dalam logika cerita Alana tersebut. Salah satu contoh kecil adalah saat Alana mencabut rol rambutnya, kesakitan, kemudian memarahi make-up artist karenanya. Saya jadi bingung, bukankah Alana sendiri yang berbuat, kenapa jadi make-up artist yang ditegur? Tadinya saya pikir adegan tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan sifat Alana yang memang kadang kurang logis, atau mungkin Alana yang sedang galau sehingga bersikap demikian, atau mungkin bagian dari bumbu komedi ala Ayuwidya, namun apapun itu, saya merasa adegan tersebut masih kurang terasa maksudnya apa.

Ceritanya pun terasa sangat instan di beberapa bagian. Baik soal dunia entertainment di dalamnya, proses peradilan ayah Regan, persahabatan Regan, dll dsb. Kebersamaan Alana dan Regan pun masih terasa sangat direkayasa dan tipikal. Somehow mengingatkan saya akan drama2 korea. Terpaksa tinggal bersama dalam satu rumah. Mati lampu dan berdiam dalam ruangan yang sama karena sebenarnya ada dua lilin namun keukeuh memakai satu lilin bersama demi alasan ekonomis. Alana yang katanya takut gelap tapi setuju untuk ditinggal Regan sendirian di rumah saat mati lampu. Sampai adegan paling tak masuk akal yang membuat saya tertawa tapi sekaligus geleng2 : saat Alana melihat Regan meloncat dari kereta dan Alana melempar sepatu high heels-nya karena itu.

Tunggu. Wait. What? Ngapain dia lempar sepatu?

Saya rasa ya adegan itu ada untuk memperkuat elemen humor Alana yang menangisi rusaknya sepatu kesayangannya sesudahnya. Lucu sih, tapi tetap saja, terasa sangat memaksa.

Itu saja, sisanya sudah cukup bagus. Saya cukup menikmati membaca kisah Alana dan Regan ini. Jadi sedikit penasaran membaca novel2 Ayuwidya yang lain. Akankah selucu humor dalam novel Strawberry Cheesecake-nya kali ini? ^^

Selamat Membaca,

 

 
Putri Review.

 

 

Penulis : Ayuwidya

Editor : Hutami Suryaningtyas & Dilla Maretihaqsari
Perancang Sampul : Nocturvis
Illustrasi Isi : Labusiam
Pemeriksa Aksara : Kiki Riskita Sari
Penata Aksara : Anik Nurcahyati & Martin Buczer

ISBN : 978-602-291-138-8
Format : Paperback, 308 halaman
Diterbitkan pertamakali 2016 oleh Penerbit Bentang
Finished (cetakan ke-1) 10 Mei 2016
Genre : Roman, Comedy
Age Range : Dewasa, Young-adult
Keywords : Baking, Entertainment Industry
Plot/Moral Cerita :    (2/5)
Alur/Editing : (1/5)
Karakter : (3/5)
Diksi/Bahasa : (3/5)
Riset/Pendalaman : (5/5)

44 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *