drama,  fiksi,  Indonesia,  keluarga,  remaja,  Review Buku,  Roman,  School Life

Sisi Lain Kehamilan Remaja dalam novel “One Little Thing Called Hope” by Winna Efendi

Aeryn dan Flo menjadi saudari tiri. Ayah Aeryn dan ibu Flo menikah, dan kedua gadis remaja itupun resmi tinggal serumah. Flo pindah ke sekolah Aeryn, bahkan ditempatkan satu kelas dengan Aeryn. Meski begitu, Aeryn dan Flo bagaikan tak saling mengenal di sekolah. Aeryn yang cerdas, atletis, dan populer selalu dikelilingi oleh teman-teman, sedangkan Flo yang tak begitu memahami pelajaran, nyentrik, dan kikuk menjadi sasaran bully. Flo yang memahami benar kekurangannya tak ingin merepotkan Aeryn lebih daripada yang seharusnya. Aeryn tahu kondisi Flo, namun rasa tidak sukanya terhadap ibu Flo, Tante Hera, membuatnya memilih untuk tidak ikut campur. Aeryn masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah dengan Tante Hera tak lama setelah ibu kandung Aeryn meninggal karena kanker ganas.
Dua gadis yang beranjak dewasa itu tak pernah benar-benar berharap untuk bisa dekat dan menjadi saudari seutuhnya, namun sebuah kehamilan mengubah segalanya.

Review

Setelah sedikit kecewa dengan novel Girl Meets Boy, akhirnya saya kembali dibuat terpukau dengan novel One Little Thing Called Hope karya Winna Efendi. Tema dan situasi yang diangkat masih tipikal Winna : dunia remaja, sekelompok pertemanan dengan pribadi yang berbeda dan melibatkan cinta–namun kali ini Winna menambahkan sebuah elemen yang cukup berani : kehamilan remaja.
Keahlian Winna Efendi dalam merangkai kata membuat saya mau-tak-mau selalu memperhatikan karya-karyanya. Namun jujur, tema kehamilan remaja-lah yang benar-benar membuat saya penasaran dengan novel One Little Thing Called Hope. Saya selalu menunggu-nunggu tema tabu tersebut muncul kembali di dunia literasi lokal, dan saat akhirnya harapan saya terjawab, dan dibawakan oleh the one and only Winna Efendi yang sudah terbukti kepiawaiannya, jelas saya menjadi girang luar biasa.
Harus saya katakan, novel One Little Thing Called Hope melebihi ekspektasi saya. Karakterisasinya sangat menarik, begitu khas Winna dengan elemen-elemen unik yang membuat kita dengan mudah meresapi setiap tokohnya. Diksinya jangan ditanya, rapi dan mengalir. Elemen ceritanya detail, dengan toko burger favorit, hobi baking Flo yang begitu manis, dan obsesi Aeryn akan kenangan ibu kandungnya yang pedih menusuk hati. Di atas semua itu, alurnya-lah yang paling membuat saya terbengong-bengong. Mainly karena Winna berhasil mengkombinasikan karakter dan plot yang terdengar tipikal dan mengundang saya untuk menebak jalan cerita, namun dengan berani menempatkan plot twist yang tidak terduga.
[SPOILER ALERT HINDARI WARNA BIRU] 
Saya sempat mengira bahwa Aeryn yang populer, cerdas, dingin dan sinis-lah yang nantinya akan terjebak kehamilan remaja dan membutuhkan bantuan Flo untuk melewatinya. Namun ternyata kebalikannya, Flo-lah yang hamil dan Aeryn–yang ternyata tidak sedingin itu–yang perlahan melunak dan mengatasi kebenciannya sendiri akan ibu tiri dan saudari tirinya.
[SPOILER END]
Plot twist yang benar-benar terlewat dari dugaan saya tersebut bukan hanya membuat saya semakin penasaran untuk menyelesaikan One Little Thing Called Hope, namun juga menambah goresan pesan moral yang begitu membekas. One Little Thing Called Hope memang bercerita tentang karakter-karakter yang tidak sempurna, namun seperti judulnya, sarat akan harapan. Masalah yang diangkat memang terdengar cukup besar, namun Winna memilih untuk membawakannya dengan hangat dan manis, jauh dari dramatis. Kisah Aeryn, Flo, serta tokoh-tokoh lainnya seperti Genta, Theo, Stefan, ayah Aeryn dan Tante Hera, mengingatkan kita bahwa tidak ada masalah yang tak bisa dilewati jika dihadapi bersama dengan kepala dingin dan hati yang bijaksana.
Karakter utama novel ini memang remaja, namun One Little Thing Called Hope sangat pantas dibaca oleh semua umur. Memang, tidak semuanya pantas diteladani, namun sangat baik untuk mengingatkan kita bahwa setiap pilihan memiliki risiko, serta selalu ada harapan untuk kita.
Cheers dan standing ovation untuk Winna Efendi. Semoga One Little Thing Called Hope segera diangkat ke layar lebar. Saya benar-benar tak sabar untuk melihat Aeryn, Flo, Theo, Genta dan karakter2 lainnya bergerak dan berbicara.
Editor : Ayuning & Gita Romadona
Penyelaras Aksara : Widyawati Oktavia
Penata Letak : Erina Puspitasari
Desainer Sampul : Jeffri Fernando
ISBN : 9789797808228
Format : Paperback, 422 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2016 oleh Gagas Media
Finished (cetakan ke-1) 20 Agustus 2016
Genre : School Romance, Family, Drama
Age Range : Teen, Young Adult
Keywords : Keluarga, Kehamilan Remaja
Plot/Moral Cerita :    (5/5)
Alur/Konflik : (4/5)
Karakter : (5/5)
Diksi/Bahasa : (5/5)
Riset/Pendalaman : (5/5)

 
Selamat Membaca,
 
Putri Review.

29 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *