adult,  erotica,  fiksi,  Indonesia,  komedi,  Review Buku,  Roman,  romcom,  workplace

Cinta Berbalut Komedi Segar dalam novel “Wedding Debt” by RatinatiF

Kidung Kinanti tak pernah menyangka bahwanya dirinya akan menjadi korban perjodohan, namun begitulah takdir membawanya. Karena terlilit hutang, ayahnya menerima pinangan si pemberi hutang yang ternyata ingin menikahi Kinan.
Prasasti Ambarawa, begitu nama pria yang dicomblangkan dengannya. Seorang pemuda yang lebih tua hampir satu dekade dari Kinan, businessman sukses berdarah blasteran. Semua orang berkata bahwa Pras (Kinan diam-diam lebih suka memanggilnya Artefak) merupakan calon yang sempurna. Jauh lebih baik dari kekasih Kinan, Kak Danny. Namun Kinan sudah telanjur sakit hati dengan fakta bahwa dia telah dijodohkan dengan semena-mena,–tak ada bedanya dengan nasib Siti Nurbaya yang dipaksa menikah dengan Datuk Maringgi.
Pokoknya Kinan tidak terima, dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan terus memberontak dan mencoba membuktikan bahwa Pras bukanlah jodoh yang terbaik baginya!
Namun perlahan Kinan pun ragu, jangan-jangan apa yang mereka katakan betul, ya? Terlepas dari sikapnya yang tukang atur, si Artefak itu memang tidak jelek-jelek amat… meskipun Kinan masih heran mengapa hampir semua perempuan takluk pada pemuda itu.

Review

Ini adalah novel ketiga RatinatiF yang saya baca (sebelumnya saya sudah membaca dua seri Durraybell yang diterbitkan dengan jalan self-published : “Fallin’ For You” dan “Chasin’ After You”). Wedding Debt merupakan novel perdana RatinatiF yang diterbitkan lewat penerbit mayor yang juga terhitung baru, yaitu Redaksi Kata Depan.
Tema dan plot yang diangkat RatinatiF sedikit banyak masih memiliki kemiripan dengan seri Durraybell miliknya, yaitu roman dewasa dengan bumbu intim yang tidak terlalu membuat risih–salah satu khas RatinatiF yang saya ingat. Namun, saya bisa melihat banyak perkembangan berarti dalam Wedding Debt. Selain diksi dan bahasanya yang lebih mengalir, plotnya yang jauh lebih matang, RatinatiF juga mengeksplorasi tema komedi dalam novel Wedding Debt.
Menurut saya, romcom ala RatinatiF di novel Wedding Debt sangat segar dan mengocok perut.  Jokes-jokesnya berbeda dengan komedi ala chicklit yang seringkali mengarah ke sarkasme dan ironi. Candaan dalam novel Wedding Debt lebih terkesan polos dan apa adanya, diperkuat oleh kata-kata yang lucu dan membuat geleng-geleng kepala. Favorit saya adalah Kinan yang sejak awal menganggap nama ‘Prasasti Ambarawa’ itu jadul, dan itulah mengapa Kinan kukuh memanggil Pras dengan julukan Artefak (yang seiring cerita berkembang menjadi Mas Arte). Nantinya akan terbuka fakta bahwa ‘Kidung Kinanti’ pun bisa dikategorikan nama jadul, dan berikut komentar Kinan tentang itu :
*Situasi : Kinan bertemu pertama kali dengan ibu Pras–yang nantinya akan menjadi ibu mertuanya
“Ibu lupa, siapa nama lengkapmu, Nak?”
“Kidung Kinanti, Bu,” jawabku patuh.
“Ah! Nama yang indah, Ibu suka nama-nama seperti itu. Kalian memang berjodoh!” Ibu Artefak terdengar antusias.
Apa? Memangnya namaku kuno juga, ya, kenapa aku tidak merasa?
(“Wedding Debt karya RatinatiF, cetakan pertama halaman 61)
=)) =)) =)) karena dari awal2 baca saya juga berpikir hal yang sama (literally ngebatin : ini orang ngatain nama orang lain kuno, namanya sendiri kayak gitu), jadinya gerrrr banget pas baca bagian di atas.
Lalu saat Kinan yang sudah begitu hopeless dengan rencana pernikahannya, sampai-sampai tidak terlalu peduli jika baju pernikahannya berwarna hijau tai kuda (apa saja asalkan bukan pink–warna yang kata Pras sangat cocok untuknya).
=)) =)) =))
Beberapa hal yang menurut saya bisa di-improve lebih jauh adalah teknik merangkai romcom-nya. Masalah yang hampir serupa pernah saya temukan pada novel Marriage of Convenience by Shanti dan Unexpected Love karya Nurilla Iryani. Menurut saya, bahkan romcom sekalipun membutuhkan momen-momen sedikit serius yang bukan hanya bertujuan untuk memancing emosi pembaca secara maksimal, namun juga memperkuat pesan moralnya. Saya cukup suka dengan ending Wedding Debt, tapi menurut saya jadi kurang berkesan karena unsur komedi yang terlalu banyak. Beberapa alur plot juga terasa sedikit dipaksakan untuk saya, di antaranya alasan mengapa Pras digosipkan sempat dekat dengan Clara juga alasan mengapa ayah Kinan menjodohkan anaknya dengan Pras.
 
[SPOILER ALERT HINDARI WARNA BIRU]
Ayah Kinan ternyata tidak berhutang pada Pras, dia hanya tak tahu harus memberi alasan apa lagi agar Kinan mau dinikahkan dengan Pras.
[SPOILER END]
Meski begitu, unsur komedinya membuat plotnya bisa dimaklumi. Saya pribadi puas dengan novel Wedding Debt, karena bisa melihat perkembangan berarti dari penulisnya. Saya dan kakak saya (iya, dia juga membaca novel ini) dibuat tersenyum lebar oleh novel Wedding Debt. Plotnya juga sudah jauh lebih mendalam, bukan hanya sekadar kisah cinta, namun juga memberikan sedikit pengetahuan tentang dunia kerja teller di perbankan.
Last but not least, novel ini saya rekomendasikan untuk penggemar novel romance dewasa yang menyukai bumbu komedi dalam kisahnya. Wedding Debt karya RatinatiF akan mengocok perut anda dengan jokes-jokes polosnya.

 

Selamat membaca,

 

 

 

Putri Review

 

Judul : Wedding Debt

Penulis : Ratinatif

Penyunting : Gita Romadhona & Adhista
Desain Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Penata Letak : Wahyu Suwarni

Format : Paperback, 335 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2016 oleh KataDepan
Finished Cetakan ke-I tanggal 15 Agustus 2016
Genre : Roman Comedy, Drama
Age Range : Adult
Keywords : Pernikahan, Perjodohan, Perbankan
Plot/Moral Cerita :    (4/5)
Alur/Konflik : (3/5)
Karakter : (4/5)
Diksi/Bahasa : (4/5)
Riset/Pendalaman : (4/5)

 

 

99 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *