adult,  erotica,  Indonesia,  melodrama,  psikologi,  Review Buku,  Roman

Cinta dalam balutan Budaya & Modernisasi dalam Novel “Nadira” / “9 Dari Nadira” karya Leila S. Chudori

Ibunda Nadira bunuh diri. Tidak ada yang tahu apa alasannya, mengapa, dan sejak kapan niat itu merasuk ke benak wanita yang telah melahirkan Nadira tersebut. Ibu yang dikenalnya selalu kokoh dan berpendirian mendadak pergi — untuk kali terakhir mengambil kuasa atas nasibnya sendiri. Apakah ada yang beliau sesali? Mungkinkah pernikahannya dengan Bram, ayah Nadira, yang membuatnya ingin pergi seperti ini? Atau mungkin 3 anaknya, Nina, Arya, dan Nadira, yang membuatnya resah setiap hari? Bosankah beliau dengan hidup yang terkungkung di hiruk-pikuk Jakarta?

Hanyalah sebuah buku harian yang tertinggal di sudut gudang, bekal Nadira untuk melepas rindu, juga mungkin mencari jawaban.

Ibu, mengapa kau pergi?

Review

Ini buku Leila S. Chudori pertama saya, dan saya cukup menyesal kenapa baru sekarang mencicipi karyanya. Saya sudah sering dengar review dan pujian orang2 akan novelnya yang lain : Pulang, sudah mencatat di benak saya untuk membacanya suatu hari nanti, tapi selalu saja tergeser oleh novel2 lain yang promonya jauh lebih gencar.
Kisahnya cukup menggelitik. Sedari awal, bahkan sejak saya membaca sinopsis di bagian belakang buku, saya sudah dibuat tertarik. Tentang seorang jurnalis perempuan muda bernama Nadira, yang ibundanya meninggal karena bunuh diri. Kejadian itu menimbulkan riak tambahan pada kehidupan Nadira yang tidak bisa dibilang damai, apalagi sempurna.
Ayah dan Ibu Nadira adalah orang-orang terpelajar, lulusan Amsterdam, yang sekembalinya mereka di Jakarta menjalani hidup sebagai kaum menengah ke bawah Jakarta. Ayah Nadira cukup idealis, mencari nafkah sebagai jurnalis, sedangkan ibu Nadira menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Nina, anak pertama keluarga, adalah seorang yang dramatis, membutuhkan banyak perhatian. Arya, anak kedua keluarga, menjalani hidup normalnya anak laki-laki yang lahir dari garis keturunan taat beragama. Nina memutuskan untuk menikah dengan seorang figur publik, penatar tari, yang dikenal mata keranjang.
Selepas ibundanya berpulang dengan paksa, banyak pertanyaan di benak Nadira. Namun, Nadira memutuskan untuk meredam kegelisahannya dengan pekerjaan. Semua orang tahu bahwa Nadira menderita, namun Nadira bersikukuh menyimpan semuanya sendiri. Yang menjadi penghibur Nadira hanyalah buku harian ibunya, yang tak juga menjawab pertanyaan, hanya memberi gambaran seperti apa ibu Nadira menjalani hidup yang tak melulu sesuai keinginan.
Ini adalah novel tentang Nadira dan orang-orang di sekitarnya. Tentang potret kehidupan keluarga yang membaurkan paham modernisasi, budaya, dan agama. Tentang hidup, dan tentang interaksi di dalamnya.
Β 
Meskipun sedikit gregetan dengan endingnya (spoiler : saya gak puas karena Nadira gak berakhir dengan Tara, dan bahkan sampai akhir pun tidak ada jawaban jelas mengenai kenapa ibu Nadira bunuh diri). Saya cukup terpukau dengan kepiawaian seorang Leila S. Chudori bercerita tanpa mengungkap mentah2 semua fakta, contohnya gambaran kehidupan Ibu Nadira di masa muda dan masa sekarang, yang sedikit banyak membuat pembaca menduga2 mengapa pada akhirnya ibunda Nadira bunuh diri, tentang pola hidup Nadira yang abnormal setelah ibundanya berpulang, juga tentang rasa dengki Nina terhadap Nadira, dan masih banyak lagi. Keahlian Leila ini lumayan bikin nagih, membuat saya ingin membaca lebih jauh lagi. Novel ini juga membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang kisah2 epos Jawa.
Adapun yang sedikit bikin gemas lainnya adalah alurnya. Mungkin karena awalnya diterbitkan sebagai cerita-cerita pendek, maka kadang saya begitu terkejut dengan alur yang terasa melompat masa lalu dan masa depan, lompat lokasi, serta keputusan2 Nadira yang terasa dramatis — namun tetap terasa nyata, karena memang begitulah hidup, bukan fiksi yang sedari awal disusun untuk menguatkan pesan moral.
Β 
Novel ini recommended banget untuk pecinta sastra yang haus akan gaya menulis yang khas, berbeda dari penulis kebanyakan. Gaya metaforanya luar biasa perfect. Memukau dan meninggalkan bekas πŸ˜€
Menurut info, nantinya kisah Nadira ini akan muncul dan diteruskan dalam novel berjudul Catatan Harian Kemala Suwandi (Ibu Nadira). Rasanya tidak sabar menunggu. Meanwhile, saya akan baca2 dulu Pulang karya Leila S.Chudori πŸ™‚
Terima kasih atas karyanya yang sangat sangat sangat menginspirasi, Kak Leila S. Chudori. Kalau bisa ketemu, gak akan ragu untuk minta tanda tangan dan mungkin foto bareng πŸ˜€
Selamat membaca!
Β 
Putri Review
Genre : Melodrama, Roman, Seks

Age Range : Adult, Dewasa
Keywords : Budaya, Jurnalisme, Amerika, Jakarta, Kanada, Belanda

Plot/Moral Cerita : β˜…β˜…β˜…β˜…β˜†(4/5)
Alur/Konflik : β˜…β˜…β˜…β˜…β˜†(4/5)
Karakter : β˜…β˜…β˜…β˜…β˜…(5/5)
Diksi/Bahasa : β˜…β˜…β˜…β˜…β˜…(5/5)
Riset/Pendalaman : β˜…β˜…β˜…β˜…β˜…(5/5)

 

Perancang Sampul : Wendie Artswenda
Illustrator Sampul & Isi : Ario Anindito (arioanindito.daportfolio.com)
Penata Letak : Bernadetta Esti W.U.
ISBN : 9786024242725
Format : Paperback, 304 halaman
Cetakan ke-II diterbitkan tahun 2017 olehΒ Penerbit KPG
Finished Cetakan ke-II bulan Maret 2017

Sinopsis

69 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *