drama,  fiksi,  Mainstream Romance,  melodrama,  New Adult,  Review Buku,  Roman

Manisnya Interaksi Kalle & Kara dalam Novel “Glaze” by Windry Ramadhina

Kara dan Kalle kehilangan orang yang sama : Elliot. Kara terpaksa melepaskan tetangga sekaligus kekasih yang sangat dicintainya, sedangkan Kalle pada akhirnya harus merelakan anggota keluarga terakhir yang dia miliki. Namun Kara dan Kalle menyikapi masa berduka mereka dengan cara yang berbeda. Hidup Kara luluh lantak, ritme kesehariannya menjadi tak tentu, sementara Kalle  beraktifitas seperti biasa, sibuk memikirkan kapan harus menjual rumah Elliot di sudut Bogor yang damai.

Kalle bukannya senang Elliot pergi, dia hanya diam-diam merasa lega. Elliot telah lama mencuri perhatian kedua orangtuanya, bahkan setelah orangtuanya berpulang pun, Elliot yang sedari kecil berjantung lemah menjadi beban Kalle.

Seakan belum cukup, Elliot bahkan memberikan beban baru bagi Kalle : wasiat untuk Kalle agar menjaga Kara jika dia meninggal di meja operasi.

Kalle tak begitu berselera menjaga Kara, dia tak mengerti apa maksud Elliot, memangnya gadis itu anjing peliharaan yang harus diberi makan dan dirawat? Namun Kalle perlahan berubah pikiran saat bertemu dan melihat tingkah laku Kara. Gadis itu memang perlu diberi makan dan dijaga, layaknya anjing peliharaan : seekor kintamani yang tergila-gila pada tembikar dan selalu butuh mandi.

Review :

Novel “Last Forever” karya Windry Ramadhina sebelum ini memang tidak terlalu membuat saya terpukau, tapi “Glaze” berhasil membayar semua kekecewaan saya sebelumnya, sampai saya menobatkan novel ini sebagai novel favorit Windry Ramadhina saya yang ke-2 : setelah “Memori” tentunya.

Awalnya saya sempat berpikir bahwa novel “Glaze” ini akan mengambil tema baking, mungkin pastry chef, tapi ternyata glaze adalah salah satu teknik yang dipakai dalam pembuatan tembikar, yang merupakan salah satu tema kuat dalam novel ini. Salah satu karakternya yang bernama Kara adalah seorang seniman tembikar, dan seperti novel2 yang sebelumnya, Windry pun berhasil menggambarkan dunia pembuatan tembikar dengan sangat detail dan meyakinkan.

Karakter Kara juga cukup lovable dengan gayanya yang sangat sangat sangat tidak fokus pada semua hal kecuali tembikar. Saking gemasnya saya sampai bisa membayangkan betapa lelahnya jika saya jadi ibu atau kakak Kara. Lebih gak kebayang lagi kalau Kara dan Elliot jadi bersatu, satunya kayak angin ribut satunya sakit jantung, dua-duanya butuh suster di rumah untuk menjaga kelangsungan hidup.

Itulah mengapa tokoh Kalle terasa cukup kuat dalam cerita. Kalle digambarkan disiplin, dingin, cenderung tenang dan penuh strategi dalam mengambil langkah ke depan. Meskipun saya sebenernya agak gregetan sama namanya (tulisan ka-le, dibacanya tapi kay), tapi somehow gemes2 gitu juga, apalagi adegan2 chemistry di antara Kara dan Kalle cukup ada bumbu dewasanya. Gak jinak-jinak merpati amat, jadi somehow bikin deg2an :D.

Pesan moralnya memang tidak sekuat Memori atau Walking After You, karakternya pun tidak semenarik Montase, tapi novel Glaze cukup seimbang dan memorable, membuat saya senyum-senyum sendiri kalau ingat beberapa adegannya.

Novel berikutnya kapan ya Kak Windry? *nagih

Genre : Melodrama, Roman

Age Range : Dewasa, Adult
Keywords : Pembuatan Keramik, Bogor, Move On, Penyakit Jantung

Plot/Moral Cerita :    (4/5)
Alur/Editing : (4/5)
Karakter : (5/5)
Diksi/Bahasa : (5/5)
Riset/Pendalaman : (5/5)
Editor : Gita Romadhona
Desainer Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Penata Letak : Gita Mariana
Illustrator Isi : Windry Ramadhina
Proofreader : Tharien Indri
ISBN : 9786026074829
Format : Paperback, 396 halaman
Diterbitkan pertamakali tahun 2017 oleh Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Finished Cetakan Ke-1 Maret 2017

 

Selamat Membaca,
 

Putri Review.

 

44 total views, 1 views today

Reviewer buku asli Indonesia. Twitter: @putrireview | Intagram: putrireview

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *