adult,  Comedy,  drama,  Indonesia,  komedi,  Mainstream Romance,  persahabatan,  Review Buku,  Review Film,  Roman,  Romance,  romcom,  Romcom

Review Buku & Film Indonesia: Aruna dan Lidahnya by Laksmi Pamuntjak

Adalah Aruna Rai, wanita usia 30-an yang tanpa perlu diakuinya pun semua tahu bahwa Aruna memuja makanan seperti Tuhan. Bersama sahabatnya Bono yang seorang chef dan Nad yang merupakan kritikus kuliner, bertiga mereka tak ubahnya anggota sekte penyembah makanan.

Aruna dan Lidahnya
Aruna dan Lidahnya

Bagi Aruna, makanan itu kebutuhan utama. Tak perlu menunggu orang lain untuk bisa menikmatinya secara sempurna. Tak perlu berpikir macam-macam untuk dapat mengecapnya saat ini juga. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa hidangan adalah baginya tak ubahnya orgasme hasil aktivitas senggama yang luar biasa.

Maka saat pekerjaannya sebagai ahli wabah di sebuah NGO mengharuskan Aruna untuk mengunjungi Madura, Surabaya, Pontianak dan daerah-daerah di Indonesia yang dikabarkan terjangkit kasus flu burung lainnya, Aruna tak ambil pusing. Diajaknya dua sahabatnya, Bono dan Nad, untuk bergabung menemaninya wisata kuliner–masalah unggas bisa dia bereskan seraya mencicipi makanan.

Aruna dan 2 Sahabatnya: Bono dan Nad
Aruna dan 2 Sahabatnya: Bono dan Nad

Meskipun dia tahu Soto Lamongan Surabaya, Bebek Madura, dan Bakmi Pontianak menggunakan unggas sebagai primadona utamanya. Aruna tak gentar karenanya. Lagi, masalah apa pun. Apa pun. Bisa dia hadapi seraya mencicipi lembut Bebek Madura yang dicocol dengan sambal khasnya dan Choipan Pontianak dengan isiannya yang luar biasa. Apa pun.

Di tengah sempurnanya rencana Aruna untuk bekerja sembari berwisata mencicipi makanan khas tanah air, Farish, mantan teman sekantornya di NGO dulu yang kini bekerja untuk organisasi pemerintahan, PWP2 (Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana) datang dan mengobrak-abrik situasi.

Bukan. Bukan daftar restoran yang harus dia kunjungi ataupun penyelidikan flu burung yang berhasil diobrak-abrik Farish, tapi hati Aruna.

Aruna, Nad, Bono, dan Farish
Aruna, Nad, Bono, dan Farish

Aruna sebenarnya telah lama menaruh hati pada Farish, namun perasaannya terpaksa kandas sepihak saat Farish resmi menjalin hubungan dengan perempuan beruntung yang tak Aruna kenal. Di sisi lain, ada Bono, si chef perfeksionis pecinta kuliner sejati yang telah memendam lama rasa pada Nad. Ada juga Nad yang telah lama memendam rasa pada pria beristri yang tak bisa dilupakannya. Serta Farish yang entah memendam rasa pada siapa, datang dengan tujuan apa, namun menurut Nad, Farish pun menggantungkan hati pada seseorang yang bukan miliknya.

Aruna dan Farish
Aruna dan Farish

Makanan lezat memang sudah nikmat apa adanya tanpa perlu bumbu cinta. Namun siapa yang berani menyangkal bahwa hati ikut ambil andil dalam hal menentukan rasa?

Bukankah pada praktiknya, lidah ikut bermain dalam cinta? Bahwa putaran dan naik turunnya ikut memantapkan rindu dan menguatkan rasa? Kenapa cinta tak bisa melakukan hal yang sama?

————

“Aruna dan Lidahnya” karya Laksmi Pamuntjak membuat saya jatuh cinta dengan setiap kuliner yang digambarkan paragraf demi paragraf novel tersebut –hanya menggunakan rangkaian kata. Saya jadi ingin merasakan rujak khas Aceh, bakmi Pontianak, Rujak Soto (atau Soto Rujak? yang mana yang lebih dominan? Penamaan menentukan ekspektasi!) di Jawa Timur, hingga Nasi Bebek Madura yang lezat.

Novel Aruna dan Lidahnya terasa cukup familiar, saya cukup merasa akrab dengan dilema yang harus dihadapi saat perut sudah terasa penuh tapi mulut masih siap mengunyah dan menggigit, mengecap dan memamah, untuk kemudian memutuskan membungkus porsi ekstra untuk dinikmati kembali di dalam bilik yang lebih pribadi, untuk kemudian merasa kecewa sesudahnya karena entah kenapa, saat tak lagi di hadapan peramunya, tak lagi berada di meja reyot warungnya, tak lagi mencium aroma arang di udara, tak lagi bergidik melihat panci berkaratnya, dan bahkan terkadang pemandangan titik-titik tahi ayam di pijakan tanah yang tak rata, rasa makanannya tak lagi sama.

Ya, sama seperti Aruna, saya bisa mengerti kenapa makanan-makanan tertentu membuat orang bicara dan bercerita tanpa titik, hanya bersedia menyelipkan koma.

Novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak
Novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak

Begitulah saya membuktikan diri bahwa saya penggemar berat novel “Aruna dan Lidahnya”. Novel yang cukup berkesan, meskipun bukan tanpa pertanyaan, kalau tidak bisa saya kategorikan sebagai kekurangan. Kisah Aruna dalam novel Aruna dan Lidahnya seperti mengutip kisah manusia di kehidupan nyata: jutaan hal yang tak berhubungan bisa terjadi di rentang waktu yang sama.

Untuk kisah Aruna, ada dua hal yang dipikirkan beberapa kali pun rasanya masih belum berhubungan: flu burung dan kuliner.

Bukan masalah besar karena kisahnya tetap bisa menghibur dan merebut, mengaduk dan membakar, menggelitik lidah dan menyesap ke dalam hati, namun seperti kisah fiksi pada umumnya yang dijalin seperti kepangan helai demi helai rambut, saya sebagai pembaca pun sejujurnya menunggu-nunggu dari awal hingga akhir cerita, tentang apa hubungannya flu burung dengan hobi kuliner Aruna di akhir cerita.

Apakah nantinya Aruna akan mati dikarenakan terjangkit flu burung dari kuliner lokal dan Aruna tak peduli (karena toh dia sudah tak bisa lagi mengungkapkan penyesalannya)?

Apakah ada kisah dimana burung-burung yang seharusnya dimusnahkan malah dijadikan bahan baku makanan murah meriah yang dinikmati pemuja kuliner seantero jagad?

Apakah flu burung yang tak jelas ada atau tidaknya tersebut ada hubungannya dengan idealisme penikmat kuliner?

Aruna dan Lidahnya
Aruna dan Lidahnya

Saya menunggu dan menunggu. Menjalin sendiri plot demi plot, dialog demi dialog, kata-kata yang terucap dan yang tak terucap, tapi tak juga menemukan benang merah jelasnya, dan dibuat lebih kesal bercampur kagum lagi bahwa saat ada yang tak lengkap bagi saya pun, saya tetap mengagumi kepiawaian Laksmi Pamuntjak dalam merangkai kata dan mengaduk emosi dan selera makan semudah menggoyangkan sendok untuk mencampur koya dengan kuah kuning keemasan Soto Ayam Lamongan khas Surabaya.

Perasaan saya ini seakan siap dimakan panas-panas bersama emping yang dibiarkan mengambang hingga empuk. Saya pasrah dan kalah.

Aruna dan Lidahnya: Sebuah Buku
9/10

—————

Mengingat betapa kagumnya saya dengan versi bukunya, bisa dibayangkan betapa senangnya saya saat tahu bahwa novel kesayangan itu akan difilmkan dengan Dian Sastro sebagai Aruna, Nicholas Saputra sebagai Bono, Hannah Al Rasyid sebagai Nad, dan Oka Antara sebagai Farish.

Kebetulan, saya merupakan generasi AADC sejak kemunculannya di tahun 2000-an, sehingga kombinasi pemeran yang diumumkan pun (Dian! Nico!) semakin membuat saya tak sabar menunggu rilis filmnya di bioskop.

Naskah Aruna dan Lidahnya diadaptasi dan dimodifikasi menjadi naskah film oleh Titien Wattimena, disutradari oleh Edwin dan diproduseri oleh 5 rumah produksi; Palari Films, Go-Studio, CJ Entertainment, Phoenix Films dan Ideosource Entertainment.

Aruna dan Lidahnya

Ada beberapa perbedaan dari versi bukunya yang terasa cukup signifikan: mulai dari hilangnya Aceh dari daftar kunjungan wisata kuliner Aruna, latar Bono yang dilewatkan dan kisah akhirnya yang ditambahkan, detail bahwa bukan Farish-lah yang ada di hati Aruna sejak awal namun tokoh lain dari buku yang tidak diikutkan ke dalam naskah filmnya, sisi seksual cerita yang dihaluskan, komedi yang dipertajam, dan masih banyak lagi.

Meskipun begitu, penggambaran kulinernya cukup mengena. Sop buntut yang diramu dan dihidangkan Aruna di awal cerita cukup menerbitkan selera, pun rawon yang dimakan dengan telur asin setelahnya, choipan dengan isian berwarna hijau daun bawang yang dibungkus dan dikukus, hingga makanan yang dikejar dan diimpikan Aruna sejak awal cerita: nasi goreng ala Mbok Sawah pengasuhnya yang dikejar dan diburu Aruna hingga ke Pontianak dan

Aruna dan Lidahnya
Aruna dan Lidahnya

timur Jawa, untuk akhirnya baru diketahui Aruna bahwa resepnya ada di tangan Ibunya yang masih hidup dan bernafas, bisa ditemui dan didatangi Aruna kapan saja.

 

Di film Aruna ini, kuliner dikaitkan erat dengan hati, dan karenanya, tak semua makanan dipuja-puji segala rupa. Aruna diceritakan kurang menyukai rujak soto yang dicicipinya saat hatinya sedang patah-patah. Ada juga momen dimana harapan sudah membumbung tinggi dan terpaksa terbanting ke tanah saat ternyata rasa masakan yang dicicipi begitu-begitu saja–hal yang mafhum terjadi pada aktivitas kuliner di kehidupan nyata.

Hal lainnya yang membuat saya cukup menyukai film Aruna, meskipun bagi saya bukunya tetap juara, adalah selipan karakter ala komedian Aruna yang cukup segar dan sangat melibatkan penonton. Aruna bisa dengan mudah memutar mata, melebarkan pandangan, dan berbisik pada kamera, dialog candanya pun ringan dan familiar dengan apa yang terjadi sehari-hari di pertemanan manusia-manusia kota besar.

Satu hal lagi yang membuat saya suka dan tidak bisa saya temukan di novelnya: musik pengiring yang segar. Favorit saya: Takkan Apa yang dinyanyikan oleh Yura Yunita.

Aruna dan Lidahnya: Sebuah Film
8/10

IMDB: Aruna dan Lidahnya
Goodreads: Aruna dan Lidahnya

167 total views, 1 views today

Movie freak. Pecinta K-drama, J-Dorama, webseries Indonesia, dan serial televisi asing. Twitter: @mandhut15 | Instagram: @heymandhut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *