Comedy,  coming-of-age,  Hollywood,  keluarga,  persahabatan,  remaja,  Review Film

Review Film Hollywood: Lady Bird (2017)

Saoirse Ronan kali ini berperan sebagai Christine Mcpherson a.k.a. “Lady Bird”, seorang gadis remaja dari Sacramento, sebuah kota kecil di AS sana. Merasa terkungkung dalam keluarga dan kota yang membosankan, Lady Bird ingin segera lulus SMA dan kuliah di salah satu universitas Ivy League. Dia tidak ingin seperti kakak angkatnya yang kuliah di akademi lokal, dia tidak peduli meskipun nilainya mungkin kurang mencukupi, dia pun tidak peduli jika orang tuanya menentang atau mungkin tidak memiliki cukup biaya untuk menyekolahkannya di tempat yang dia inginkan. Christine (yang hanya mau dipanggil Lady Bird untuk alasan yang hanya dia mengerti) hanya ingin segera menjadi wanita dewasa yang bebas, hidup sendiri, jauh dari Sacramento dan keluarga.

Ini adalah kisah gadis remaja keras kepala di salah satu fase kehidupan terpentingnya: merasakan apa bedanya ‘memaksakan’ diri menjadi dewasa dan ‘terpaksa’ menjadi dewasa.

via Google.com

—–

Film yang naskahnya digarap dan disutradari oleh Greta Gerwig ini dinobatkan menjadi satu dari 10 film terbaik 2017 versi National Board of Review. Greta Gerwig yang juga mendapatkan penghargaan sutradara terbaik dari institusi yang sama untuk film yang sama, memang cukup fasih dalam mengeksplor tema coming-of-age dengan bumbu komedi. Salah satu film yang disutradarai dan juga dibintanginya, Frances Ha (2012), meraih perhatian dan penghargaan yang cukup bergengsi karena cerita plotnya yang cukup spesifik dan eksplorasi emosinya yang cukup mendalam.

Begitu pula dengan film Lady Bird (2017)-nya kali ini, tema kedewasaan, dialog, dan sisi emosionalnya dieksplorasi dengan sangat baik, sehingga cukup bisa membuat penonton relate.

Karakter Lady Bird a.k.a. Christine digambarkan jauh dari sempurna. Tipe remaja sok tahu yang bahkan cenderung kasar, emosi meletup-letup, seringkali bertindak dan berbicara sebelum berpikir panjang. Saya sendiri secara pribadi cukup kesal melihat karakter tersebut, namun plot dan karakterisasinya begitu dalam dan real, sehingga saya mau tak mau terus menonton hingga akhir, karena meskipun sebal, sedikit banyak saya mengerti kenapa Lady Bird bertindak seperti itu. Semua orang pernah menjadi remaja. Hampir semua orang pernah menjadi Lady Bird dalam hidupnya.

via Google.com

Dari semua hal dari film Lady Bird, dialog adalah yang paling merebut hati saya. Saya suka sekali dialog-dialog antara Lady Bird dan ibunya, Marion (Laurie Metcalf). Salah satu dialog yang cukup membuat saya terngiang-ngiang adalah ini:

Lady Bird: No, I mean, I just, I wish that you liked me.

Marion: Of course I love you.

Lady Bird: But do you like me?

Marion: I want you to be the very best version of yourself that you can be.

Lady Bird: What if this is the best version?

Lady Bird dan Marion, ibunya — via Google.com

Keras kepala dan sensitif, Lady Bird adalah karakter yang sangat memorable. Filmnya sangat menghibur, terutama untuk orang-orang yang tumbuh besar di kota kecil, atau yang pernah bersekolah di institusi katolik. Kekurangannya ada pada ending yang terasa sedikit kurang signifikan. Sisanya sudah sangat menghangatkan hati.

Selain National Board of Review, Lady Bird (2017) berhasil meraih 5 nominasi Oscar 2017 untuk kategori Best Picture, Best Actress (for Ronan), Best Supporting Actress (for Metcalf), Best Original Screenplay, dan Best Director, juga berhasil memenangkan kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy dan Best Actress – Musical or Comedy (for Ronan) di Golden Globe Awards 2017. Film ini juga menggandeng Timothée Chalamet yang sedang naik daun setelah perannya dalam film Call Me by Your Name (2017).

Lady Bird (2017)

9/10

67 total views, 1 views today

Movie freak. Pecinta K-drama, J-Dorama, webseries Indonesia, dan serial televisi asing. Twitter: @mandhut15 | Instagram: @heymandhut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *