Hollywood,  keluarga,  Review Film,  science fiction

Review Film Hollywood: The Titan (2018)

Bagi kalian yang tertarik dengan teori evolusi manusia, kemungkinan akan menyukai film The Titan (2018) yang naskahnya ditulis oleh Max Hurwitz ini. Dengan genre sci-fi yang cukup kental, film The Titan (2018) mengusung premis usaha memanipulasi genetik manusia yang ada sekarang agar dapat bertahan di luar angkasa.

Diceritakan, bumi tak lagi dapat ditinggali. Kelebihan populasi, sumber daya alam yang semakin menipis, dan konflik berkepanjangan menjadi masalah yang tak lagi bisa diatasi. Solusi untuk mencari planet lain sebagai tempat tinggal baru pun muncul. Dari semua opsi, salah satu bulan Saturnus, Titan, dianggap menjadi tempat yang paling mungkin menampung ras manusia. Meskipun begitu, mengingat kondisi alam Titan yang cukup ekstrim dan atmosfer dengan kadar berbeda dari bumi, penyesuaian tetap harus dilakukan. Para ilmuwan tidak hanya berencana untuk mengungsikan sisa penduduk bumi ke sana, tapi ingin memastikan kelangsungan hidup ras manusia dengan cara memanipulasi genetik agar bisa bertahan di Titan bahkan tanpa bantuan oksigen tambahan dan baju pelindung.

Demi mencapai tujuan tersebut, para ilmuwan dengan dipimpin oleh Profesor Martin Collingwood (Tom Wilkinson) mengumpulkan beberapa kandidat manusia yang dianggap cukup kuat secara fisik dan mental. Kandidat-kandidat tersebut didaulat untuk menjalani serangkaian percobaan obat dan pelatihan fisik selama beberapa bulan di bumi agar nantinya mereka dapat bertahan di Titan. Percobaan yang dilakukan termasuk mengubah fisiologis tubuh mereka agar dapat bernapas menggunakan nitrogen, menyelam untuk waktu yang lama, bahkan mengubah anatomi mata dengan jalan operasi. Ada yang bertahan, namun lebih banyak yang gugur di tengah jalan dikarenakan komplikasi atau sebab yang tak bisa dijelaskan. Di antara semua kandidat, Letnan Rick Jansenn (Sam Worthington) adalah yang paling menunjukkan kemajuan yang menjanjikan.

via Google.com

Rick rela mengorbankan dirinya untuk memastikan umat manusia, terutama keluarganya, dapat terus hidup, baik di bumi maupun di Titan. Namun saat semua percobaan yang dia lakukan berbuntut perubahan fisik dan fisiologis yang cukup drastis dan cenderung membuatnya jauh dari keluarga yang dicintainya, Rick mulai bertanya-tanya apakah program yang dijalaninya ini sepadan dengan risiko yang harus dihadapinya nanti.

via Google.com

Apakah benar homo titaens, ras baru manusia, bisa bertahan di Titan sana? 

—–

Premisnya cukup menarik, meskipun alur plotnya sedikit membosankan hingga ke ending. Plot twistnya ada, pesan moralnya cukup kuat, meskipun penjelasan dan fondasi saintifiknya masih terasa kurang memuaskan. Ada beberapa perubahan fisik dari Rick yang sedikit membingungkan, tapi sedikit banyak cukup menghibur dan membuat berdebar untuk ditonton.

[SPOILER ALERT – hindari warna biru] Jadi, digambarkan bahwa nantinya Rick akan berhasil dirubah genetiknya menjadi homo titaens, ras baru manusia yang bisa menyelam untuk waktu lama dan bernapas menggunakan nitrogen. Kulitnya berubah menjadi menebal, lengkap dengan insang, kemampuan untuk melihat jarak jauh, dan sulur yang muncul dari tangan (ini sih yang paling bikin heran). Mengingatkan saya akan tokoh superhero Marvel atau DC. [END OF SPOILER]

Jika dibandingkan dengan film sci-fi lainnya, Annihilation (2018) yang juga baru dirilis Februari 2018 lalu dan dibintangi oleh Natalie Portman, The Titan (2018) minus penjelasan saintifik dan suspensenya, padahal banyak potensi untuk mengeksplorasi hal tersebut.

via google.com

The Titan (2018)

7/10

89 total views, 1 views today

Movie freak. Pecinta K-drama, J-Dorama, webseries Indonesia, dan serial televisi asing. Twitter: @mandhut15 | Instagram: @heymandhut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *