richard-love-for-sale-2018
Indonesia,  Review Film,  Romance,  Romcom

Review Film Indonesia: Love for Sale (2018)

poster-love-for-sale-2018

Celana dalam usang dan kurakura

Itu adalah dua hal pertama yang saya ingat tentang adegan awal film Love for Sale (2018) produksi Visinema Pictures. Seakan ingin segera menanamkan figur bujang lapuk di usia awal 40-an pada penonton bioskop, plotnya tidak tanggung-tanggung langsung memperlihatkan sang peran utama, Richard Widjaya (Gading Marten) yang baru bangun pagi dan hanya memakai kutang dan celana dalam yang sudah usang luar biasa. Saya harus tambahkan bahwa bukan hanya KUSAM dan BOLONG, tapi celana dalamnya sedikit LONGGAR.

-_-; Terima kasih kepada yang buat naskah, yang sudah dilihat tak bisa saya hapus lagi.

Lanjut ke plot,

Hal pertama yang Richard lakukan di pagi hari (setelah garuk-garuk sana-sini dan menyapa tetangga dalam keadaan setengah telanjang) adalah memberi makan Kelun, kura-kura jantan kesayangannya yang sudah berumur 17 tahun. Setelah mandi dan bersiap-siap, Richard kemudian mengelola jasa percetakan miliknya, Primawarna, yang kantornya terletak di lantai bawah rumah yang dia tinggali. Hampir setiap hari, Richard mengomeli pegawai percetakannya. Sesekali dalam sebulan, Richard akan berkumpul dengan teman-teman prianya untuk nobar sepakbola–teman-teman yang memanggil Richard dengan sebutan ‘om’ karena perbedaan umur di antara mereka. Di kala butuh teman bicara serius, Richard akan menghubungi teman sejak kecilnya, Panji.

Tidak ada istri, kekasih, apalagi anak. Keluarga tinggal jauh, dan teman pun bisa dihitung dengan jari. Richard hidup seorang diri, hanya Kelun yang menemani.

Suatu hari, Richard ditantang untuk membawa kekasih ke pernikahan salah satu teman nobarnya. Richard pun memutar otak: menghubungi teman lama, bertemu dengan janda dua anak atas rekomendasi temannya, sampai memanfaatkan posisinya sebagai bos untuk mendaulat salah satu karyawatinya untuk menemaninya ke pernikahan temannya tersebut Sabtu nanti. Namun, semua usahanya gagal, sampai akhirnya Richard hanya bisa berharap pada satu hal: jasa perjodohan online Love Inc. yang menawarkan jasa teman jalan sewaan.

Dan dari sanalah, Richard bertemu dengan Arini (Della Dartyan).

richard-love-for-sale-2018
google via metrotvnews.com

Trailer Love for Sale mengingatkan saya akan fenomena rent-a-friend di Jepang sana, dan itulah mengapa saya tertarik untuk menonton. Selain itu, saya juga sedikit penasaran dengan film debut Gading Marten sebagai peran utama, pun genre film dewasa yang tergolong sudah jarang muncul di dunia perfilman Indonesia.

Love for Sale dibuka dengan adegan yang cukup memorable (celana dalam!). Penggambaran karakter-karakternya sepanjang film sangat gamblang dan jelas, namun menggunakan cara yang halus dan rapi. Betul-betul show don’t tell, sehingga semuanya terasa alami. Ceritanya pun mengalun dengan cukup berani, baik alur maupun pilihan adegan, sehingga sesuai genrenya, film ini memang lebih pantas ditonton oleh audiens dewasa.

Adapun kekurangan film ini adalah eksekusi plot yang kurang logis dan jelas di beberapa bagian. Salah satu contohnya adalah alasan mengapa Richard memperbolehkan Arini untuk menginap di rumahnya, lalu kisah tentang keluarga dan teman-teman Arini yang sampai sekarang masih belum jelas. Apakah itu memang bagian dari servis Love inc. atau hanya tipudaya Arini semata, saya sendiri masih belum paham bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Ketidakjelasan plot ini semakin terasa menjelang ending, sehingga pesan moral tentang keberanian untuk mencintai yang ditinggalkan di akhir cerita pun terasa kurang kuat. Kalau memang mau dibuat open ending pun, masih terlalu menggantung dan mengambang. Saya pikir tidak ada salahnya memberikan keterangan sedikit tentang kelanjutan cerita Richard atau sedikit info tentang motif Arini sebenarnya, supaya penonton jelas bisa sedih atau senang, putus asa atau memiliki harapan baru di akhir cerita.

arini-richard-love-for-sale
google via medcom.id

Supaya tidak terlalu spoiler, saya pikir saya akan menuliskan review sampai sini saja. Bottom line, Love for Sale memiliki beberapa kekurangan fatal dari segi plot, tapi termasuk film Indonesia yang segar dengan dialog-dialog yang real, akting yang mumpuni, dan tema cerita unik yang cukup menarik untuk disimak.

Love for Sale (2018) produksi Visinema Pictures, disutradarai oleh Andy Bachtiar Jusuf, ditulis oleh Irfan Ramli dan Ucup.

Score: 7/10

Selamat menonton!

Mandhut.

486 total views, 2 views today

Movie freak. Pecinta K-drama, J-Dorama, webseries Indonesia, dan serial televisi asing. Twitter: @mandhut15 | Instagram: @heymandhut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *